{"id":959,"date":"2026-07-28T10:39:09","date_gmt":"2026-07-28T03:39:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.dacnews.com\/?p=959"},"modified":"2026-07-31T14:37:57","modified_gmt":"2026-07-31T07:37:57","slug":"51-tahun-majelis-ulama-indonesia-menguatkan-khadimul-ummah-shadiqul-hukumah-melalui-kongres-umat-islam-indonesia-ke-8","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.dacnews.com\/?p=959","title":{"rendered":"51 Tahun Majelis Ulama Indonesia: Menguatkan Khadimul Ummah, Shadiqul Hukumah melalui Kongres Umat Islam Indonesia ke-8"},"content":{"rendered":"<!-- wp:themify-builder\/canvas \/-->\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto : Istimewa<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1073,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[56,37],"class_list":["post-959","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opinion-analysis","tag-kongres-umat-islam-indonesia","tag-mui","has-post-title","has-post-date","has-post-category","has-post-tag","has-post-comment","has-post-author",""],"builder_content":"<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi besar organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan nasional, ormas-ormas Islam hadir sebagai kekuatan sosial yang tidak hanya menjaga kehidupan keagamaan umat, tetapi juga berperan aktif dalam membangun fondasi kebangsaan. Meskipun memiliki latar belakang, corak pemikiran, dan metode perjuangan yang beragam, bahkan tidak jarang diwarnai perbedaan pandangan yang tajam, seluruh elemen tersebut memiliki satu titik temu yang kokoh: mewujudkan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri bangsa.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Semangat itu tercermin dalam proses historis lahirnya Piagam Jakarta hingga perumusannya menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjadi al-mitsaq al-wathani atau konsensus kebangsaan. Konsensus inilah yang menjadi fondasi bersama bagi umat Islam Indonesia dalam mengabdikan diri kepada agama sekaligus kepada bangsa dan negara.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Dalam semangat persatuan itulah Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan pada 26 Juli 1975 sebagai wadah berhimpunnya para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim dari berbagai organisasi Islam. Selama 51 tahun, MUI telah menjadi rumah bersama bagi keberagaman ekspresi keislaman di Indonesia, sekaligus menjembatani aspirasi umat dengan kepentingan negara.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Di tengah dinamika sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi yang semakin kompleks, peran MUI terus mengalami transformasi. Masyarakat luas sering kali mengenal MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa atau memberikan sertifikasi halal. Padahal, kiprah MUI jauh melampaui dua fungsi tersebut.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Sebagai sebuah quasi non-governmental organization, MUI memiliki posisi yang unik. Ia bukan lembaga negara, tetapi juga bukan organisasi masyarakat biasa. Posisi ini memberikan ruang strategis bagi MUI untuk menjalankan fungsi moral, keagamaan, sekaligus kebangsaan. MUI hadir sebagai penghubung antara aspirasi umat dengan arah kebijakan negara, memberikan pandangan keagamaan terhadap berbagai persoalan publik, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan bersama.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks itulah konsep Khadimul Ummah, Shadiqul Hukumah menemukan relevansinya. Sebagai Khadimul Ummah, MUI menempatkan diri sebagai pelayan umat. Tugasnya adalah membimbing kehidupan keagamaan masyarakat, menjaga akidah, memperkuat ukhuwah Islamiyah, memberikan edukasi keagamaan, hingga merespons berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat. Pelayanan tersebut diwujudkan melalui fatwa, dakwah, pendidikan, advokasi, hingga penguatan literasi keislaman.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, sebagai Shadiqul Hukumah, MUI memosisikan diri sebagai sahabat sekaligus mitra pemerintah. Kemitraan tersebut bukan berarti menjadi alat kekuasaan, melainkan memberikan masukan, kritik yang konstruktif, serta solusi terhadap berbagai persoalan bangsa berdasarkan nilai-nilai Islam dan konstitusi. Hubungan yang dibangun adalah hubungan dialogis, saling menguatkan, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Memasuki usia ke-51, MUI menunjukkan bahwa perannya tidak berhenti sebagai pemberi legitimasi keagamaan atas suatu kebijakan. Sebaliknya, MUI semakin aktif menawarkan gagasan strategis mengenai arah pembangunan nasional. Hal tersebut tampak jelas dalam penyelenggaraan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8, yang menjadi salah satu ikhtiar besar MUI untuk merumuskan kontribusi umat Islam terhadap masa depan Indonesia.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Selama tiga hari pelaksanaan kongres, para ulama, akademisi, tokoh masyarakat, cendekiawan, dan berbagai elemen umat berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu strategis yang menentukan masa depan bangsa. Pembahasannya tidak terbatas pada persoalan ibadah atau hukum Islam semata, tetapi mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari agama, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, keamanan, geopolitik, hingga tantangan dunia digital dan cyber sovereignty.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Forum ini menunjukkan bahwa Islam Indonesia memiliki perhatian yang luas terhadap pembangunan bangsa. Berbagai isu strategis dibahas secara serius, antara lain implementasi Pasal 33 UUD 1945 sebagai fondasi demokrasi ekonomi, penguatan sistem pendidikan nasional, reformasi politik, revisi Undang-Undang Pemilu agar mampu menjamin partisipasi publik yang lebih bermakna, pemberantasan korupsi termasuk wacana hukuman mati bagi koruptor, hingga pentingnya membangun kedaulatan digital Indonesia di tengah dominasi platform global.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Melalui Kongres Umat Islam Indonesia ke-8, MUI menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan nasional. Sebaliknya, umat harus menjadi subjek yang aktif menawarkan gagasan, memberikan solusi, dan ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Kongres ini sekaligus memperlihatkan bahwa ulama bukan hanya penjaga moral masyarakat, tetapi juga mitra strategis dalam merumuskan kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Tentu, berbagai rekomendasi yang dihasilkan kongres akan memerlukan dialog lebih lanjut dengan pemerintah, DPR, akademisi, serta seluruh elemen masyarakat. Namun demikian, nilai penting dari kongres ini bukan semata-mata pada rekomendasi akhirnya, melainkan pada tradisi musyawarah, ijtihad kolektif, dan keberanian umat Islam untuk menghadirkan solusi atas persoalan-persoalan kebangsaan.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Memasuki setengah abad keduanya, MUI menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Disrupsi teknologi, perubahan geopolitik global, krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga polarisasi sosial menuntut hadirnya kepemimpinan ulama yang adaptif tanpa kehilangan pijakan nilai. Dalam konteks tersebut, MUI dituntut terus memperkuat kapasitas kelembagaan, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan pandangan keagamaan yang mampu menjawab tantangan zaman.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Selama 51 tahun pengabdiannya, MUI telah membuktikan diri sebagai institusi yang terus berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan umat, kepentingan bangsa, dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil \u2019alamin. Semangat Khadimul Ummah, Shadiqul Hukumah menjadi fondasi penting agar MUI tetap dipercaya sebagai pelayan umat sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan berkeadaban.<\/p> <p style=\"text-align: justify;\">Semoga para ulama yang mengabdikan diri melalui Majelis Ulama Indonesia senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan hikmah oleh Allah SWT dalam membimbing umat serta mengawal perjalanan bangsa. Selamat Hari Lahir Majelis Ulama Indonesia ke-51. Semoga semangat \u201cUmat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat\u201d terus menjadi energi bersama dalam membangun Indonesia yang maju, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.<\/p>\n<p><strong>Oleh : Roqiyul Maarif Syam<\/strong><br \/>Wakil Sekretaris LPBKI MUI Pusat<br \/><br \/><\/p>\n\u00a9 <a href=\"https:\/\/www.dacnews.com\">DAC News<\/a> 2026","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/959","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=959"}],"version-history":[{"count":60,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/959\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1112,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/959\/revisions\/1112"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dacnews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}