Kecerdasan Buatan dan Urgensi Jurnalis Partai Politik
SAYA tidak memulai karier dengan masuk partai politik. Titik awal saya adalah sebagai penulis opini di majalah kampus, di Bandung, pada tahun 2003 silam. Dari buletin fotokopian dan mimbar bebas mahasiswa, saya belajar prinsip dasar menulis. Prinsip itu adalah menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan mengorganisir keberanian berpikir. Dari sana saya kemudian, belakangan, menjadi penulis buku dan kontributor di berbagai media cetak dan daring.
Karena kerja jurnalistik itu, membuat saya sangat akrab dengan politisi lintas partai. Saya duduk di forum mereka, mewawancarai mereka, dan mengkritik kebijakan mereka secara langsung. Rentang waktu sejak 2003 hingga 2026 memberi saya jarak pandang yang utuh tentang perubahan jurnalistik. Pada 2003-2014, jurnalis menghabiskan 70 persen waktu untuk pekerjaan teknis seperti transkrip manual dan kliping. Hari ini pekerjaan teknis itu telah diambil alih oleh Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kecerdasan Buatan
Data Reuters Institute Digital News Report 2024 mencatat 59 persen newsroom di 40 negara telah memakai AI generatif. Associated Press bahkan telah memakai AI untuk laporan keuangan sejak 2014 dan meningkatkan produktivitas 12 kali lipat. Laporan WAN-IFRA 2024 juga menyebut 78 persen penerbit di Asia memakai AI untuk efisiensi produksi. Realitas ini menegaskan bahwa AI bukan lagi wacana masa depan, melainkan infrastruktur kerja hari ini. Karena itu jurnalis tidak boleh gagap, tetapi harus beradaptasi secara cerdas dan kreatif.
Kegagapan itu lahir dari premis keliru bahwa AI akan menggantikan jurnalis sepenuhnya. Premis yang lebih akurat dari Poynter Institute adalah jurnalis yang menguasai AI akan menggantikan yang tidak menguasai AI. Maka ketakutan harus diubah menjadi strategi adaptasi yang konstruktif dan terukur. AI harus diposisikan sebagai asisten, bukan sebagai aktor utama dalam proses jurnalistik. AI adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir kritis dan etis.
Dalam praktik saya, pemanfaatan AI saya petakan dalam tiga klaster. Klaster pertama adalah pra-produksi, yaitu ideation dan angle enrichment berbasis data. Dengan prompt yang tepat, AI mampu menghasilkan 10 hingga 15 varian sudut pandang dari satu peristiwa politik. Klaster kedua adalah produksi dan riset, AI mampu merangkum 50 dokumen dalam 10 menit. Klaster ketiga adalah pasca-produksi, yaitu editing EYD, penyederhanaan kalimat, dan optimasi SEO.
Namun ada batas etis yang harus ditarik dengan tegas dan tidak bisa ditawar. Tiga domain jurnalistik secara ontologis tidak bisa didelegasikan kepada mesin seberapa pun canggihnya. Domain pertama adalah keberanian verifikasi lapangan atau discipline of verification ala Bill Kovach. AI (1) tidak bisa merasakan kegugupan narasumber, (2) tidak bisa mencium bau limbah, dan (3) tidak bisa membaca air mata korban. Domain ini hanya bisa dijalankan oleh manusia yang hadir langsung dan berani mengambil risiko di lapangan.
Domain kedua adalah intuisi, empati, dan konteks sosial yang hanya lahir dari perjumpaan langsung. Data Dewan Pers 2023 menunjukkan 78 persen sengketa pers bersumber dari pemberitaan yang miskin konteks. Konteks yang kaya tidak lahir dari prompt, melainkan dari perendaman di lapangan. AI memang bisa menyajikan data, tetapi tidak bisa menangkap makna kultural di balik data tersebut. Empati jurnalistik tetap menjadi wilayah eksklusif manusia yang tidak bisa diotomatisasi.
Domain ketiga adalah akuntabilitas hukum dan etik yang melekat pada manusia. Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 menegaskan penanggung jawab pers adalah manusia, bukan algoritma. Ketika berita bermasalah, yang dipanggil adalah pemimpin redaksi, bukan sistem AI. AI tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana, tidak bisa disidang etik, dan tidak bisa meminta maaf secara moral. Karena itu, kedaulatan terakhir tetap berada di tangan jurnalis manusia.
Hal ini membawa saya pada pertanyaan struktural tentang newsroom partai politik. Hampir semua partai hari ini memiliki media center, studio podcast, dan tim desain yang bagus. Namun mereka juga memiliki buzzer yang banyak, tetapi miskin narator yang berideologi. Mereka memiliki grafis yang menarik, tetapi miskin penulis yang mampu membangun narasi panjang. Di era Edelman Trust Barometer 2024 yang mencatat kepercayaan pada media sosial hanya 42 persen, pertarungan bukan lagi di baliho, melainkan di narasi yang dipercaya.
Urgensi Jurnalis Partai
Di sinilah urgensi jurnalis partai menjadi vital dan tidak bisa ditunda lagi. Partai tidak boleh hanya merekrut admin media sosial yang reaktif dan musiman. Partai harus mencetak dan mendidik jurnalisnya sendiri secara serius dan berkelanjutan. Saya merumuskannya dalam tiga fungsi strategis yang saling mengunci. Tanpa fungsi ini, partai akan kehilangan arah narasi dan mudah digiring oleh opini lawan yang sistematis.
Fungsi pertama adalah fungsi ideologis, yaitu menjaga nalar dan marwah ideologi partai. Jika buzzer menulis untuk viralitas 24 jam, jurnalis partai menulis untuk konsistensi pemahaman selama lima tahun. Ia menerjemahkan AD ART dan manifesto yang tebal menjadi bahasa publik yang cair dan membumi. Tanpa penjaga ideologi, narasi partai mudah menyimpang menjadi sekadar gimmick elektoral yang hampa makna. Di sinilah jurnalis partai memastikan setiap tulisan tetap setia pada platform perjuangan dan nilai dasar partai.
Fungsi kedua adalah fungsi translasi atau bridging antara elite dan basis massa. Riset CSIS 2023 menunjukkan 61 persen pemilih muda tidak paham program partai karena bahasa yang elitis. Jurnalis partai mengubah kebijakan fiskal menjadi cerita harga cabai dan geopolitik menjadi cerita lapangan kerja. Tanpa kemampuan translasi, kebijakan partai hanya berhenti di dokumen elite dan tidak menyentuh emosi rakyat. Jurnalis partai menjembatani jurang itu dengan bahasa yang empatik, kontekstual, dan mudah dicerna publik.
Fungsi ketiga adalah fungsi pertahanan narasi atau narrative defense yang beretika. Ketika partai diserang hoaks, respons buzzer yang emosional justru memperburuk citra partai. Data Kominfo mencatat sepanjang 2023 hingga 2024 ada lebih dari 3.200 hoaks politik yang beredar luas. Konsultan politik hanya menjawab dengan bantahan kaku, sedangkan jurnalis partai menjawab dengan cerita terverifikasi. Ia membalas dengan fakta yang akurat, logika yang runtut, dan emosi perjuangan yang autentik.
Oleh karena itu formula masa depan adalah kolaborasi hibrida yang terintegrasi antara manusia dan AI. Dalam jurnalistik umum, formulasinya adalah 70 banding 30, yaitu 70 persen kerja manusia dan 30 persen bantuan AI. Kerja manusia meliputi peliputan, verifikasi, wawancara mendalam, dan penentuan sikap editorial. Dalam konteks partai, 70 persen adalah kader ideologis yang menguasai lapangan dan 30 persen keterampilan jurnalistik berbantuan AI. Jika dijalankan, partai mendapat efisiensi produksi, arsip pengetahuan yang rapi, dan kepercayaan publik yang kembali.
Pada akhirnya, secanggih apa pun ChatGPT, Gemini, atau Claude, publik tetap merindukan tulisan yang berjiwa. Jiwa itu tidak lahir dari prompt engineering, melainkan dari pengalaman panjang. Pengalaman itu, misalnya, ditolak narasumber, begadang mengejar deadline, dan dimarahi redaktur karena satu koma salah. AI boleh membantu menulis berita dengan cepat, tetapi hanya manusia yang bisa menulis kebenaran dengan keberanian. Dan dalam konteks partai, hanya jurnalis partai yang bisa menulis sejarah dan menjaga masa depan partainya tetap dipercaya. (*)
Oleh: Syamsudin Kadir
Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat