KH. Ma’ruf Amin Serukan Gencatan Senjata Saudi-Houthi, Tawarkan “Jembatan Dialog Empat Pilar” untuk Redakan Konflik Timur Tengah
JAKARTA, DAC News — Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, menyampaikan keprihatinannya atas memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang terjadi di kawasan strategis Bab el-Mandeb. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, KH. Ma’ruf Amin mengajak seluruh pihak untuk segera menghentikan kekerasan dan mengedepankan dialog sebagai jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.
Menurut KH. Ma’ruf Amin, pertikaian yang melibatkan sesama bangsa dan negara Muslim bukan hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di wilayah konflik, tetapi juga membawa konsekuensi yang jauh lebih luas terhadap stabilitas kawasan maupun dunia. Ia menilai eskalasi tersebut berpotensi mengganggu sektor ekonomi, politik, hingga kondisi psikologis umat Islam secara global, termasuk memberikan dampak terhadap Indonesia.
“Saya merasa sedih dan prihatin melihat perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas,” tulis KH. Ma’ruf Amin dalam pernyataannya.
Ia menegaskan bahwa konflik bersenjata tidak pernah menjadi solusi jangka panjang. Sebaliknya, peperangan hanya memperdalam luka kemanusiaan, memperbesar ketidakpercayaan antarpihak, serta mengancam keamanan jalur perdagangan internasional yang menjadi urat nadi perekonomian dunia.
Atas dasar itu, KH. Ma’ruf Amin mengetuk hati nurani para pemimpin Arab Saudi maupun kelompok Houthi di Yaman agar segera menghentikan aksi saling serang dan memilih jalan damai. Menurutnya, sebagai sesama Muslim, darah, nyawa, dan kehormatan manusia merupakan sesuatu yang suci dan harus dijaga bersama.
Sebagai kontribusi pemikiran dalam mendorong penyelesaian konflik, KH. Ma’ruf Amin menawarkan sebuah gagasan yang ia sebut sebagai “Jembatan Dialog Empat Pilar”. Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi jalan tengah yang mampu membuka ruang perdamaian secara bertahap dan berkelanjutan.
Pilar pertama yang diusulkan adalah gencatan senjata kemanusiaan sesegera mungkin. Ia menilai penghentian seluruh operasi militer di kawasan Bab el-Mandeb dan wilayah sekitarnya merupakan langkah paling mendesak untuk mencegah memburuknya krisis kemanusiaan. Selain melindungi masyarakat sipil, penghentian pertempuran juga dinilai penting untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang memiliki peran strategis bagi perdagangan global.
Menurutnya, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula risiko gangguan terhadap distribusi logistik dunia, yang pada akhirnya dapat memicu ketidakstabilan ekonomi internasional.
Pilar kedua adalah mengaktifkan kembali poros dialog internal umat Islam dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama para ulama dan tokoh Muslim dunia mengambil peran lebih aktif sebagai mediator yang netral.
Ia berpandangan bahwa penyelesaian konflik antarsesama umat Islam seharusnya dilakukan melalui mekanisme dialog yang dibangun atas dasar persaudaraan dan saling menghormati, bukan dengan memperbesar ruang bagi intervensi pihak luar yang justru berpotensi memperumit situasi.
“Penyelesaian konflik harus mengedepankan semangat persaudaraan Islam,” demikian substansi pesan yang disampaikan KH. Ma’ruf Amin.
Selanjutnya, pilar ketiga adalah rekonsiliasi berbasis inklusivitas politik. Menurutnya, seluruh pihak yang bertikai perlu duduk bersama untuk menyusun peta jalan (roadmap) perdamaian yang dapat diterima semua pihak.
Rekonsiliasi tersebut harus dibangun di atas prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing, mengedepankan dialog politik yang inklusif, serta menciptakan tata kelola keamanan kawasan yang mampu menjamin stabilitas jangka panjang. Dengan demikian, penyelesaian konflik tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menghilangkan akar persoalan yang selama ini menjadi pemicu ketegangan.
Adapun pilar keempat adalah jaminan keamanan jalur logistik internasional. KH. Ma’ruf Amin mengusulkan agar seluruh pihak menyepakati pembentukan zona bebas konflik di kawasan Selat Bab el-Mandeb sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kepentingan kemanusiaan dan stabilitas ekonomi global.
Ia menilai keamanan jalur tersebut tidak hanya menjadi kepentingan negara-negara yang berkonflik, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat internasional mengingat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Melalui gagasan tersebut, KH. Ma’ruf Amin berharap ruang dialog dapat kembali dibuka dan menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian yang adil serta berkelanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan memperbesar penderitaan masyarakat sipil dan memperlebar dampak negatif terhadap dunia Islam maupun masyarakat internasional.
Di akhir pesannya, KH. Ma’ruf Amin kembali mengajak seluruh pemimpin dan pihak yang terlibat untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan perdamaian. Menurutnya, penyelesaian melalui dialog merupakan pilihan yang lebih bermartabat dibandingkan mempertahankan konflik yang terus menelan korban dan mengancam stabilitas kawasan maupun dunia.
Ditulis Oleh : Maghris Syam