KH Ma’ruf Amin Luncurkan Buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah Jelang Muktamar ke-35 NU
JAKARTA – Menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), KH Ma’ruf Amin dijadwalkan meluncurkan buku berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin pada Rabu (5/8/2026) malam di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Peluncuran buku yang berlangsung hanya beberapa pekan sebelum Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 itu dinilai memiliki makna strategis. Di tengah momentum penentuan arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan, buku tersebut menawarkan pandangan mendasar mengenai fondasi pemikiran, metode, dan arah gerakan Nahdlatul Ulama.
Buku setebal lebih dari 600 halaman itu ditulis oleh Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin. Karya tersebut merangkum pemikiran KH Ma’ruf Amin mengenai tiga pilar utama NU, yakni fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan), yang menurutnya menjadi landasan utama dalam menjaga keberlangsungan organisasi.
Dalam pengantarnya, KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa NU tidak dapat dipahami hanya sebagai organisasi formal dengan struktur administratif semata. Menurutnya, NU merupakan sebuah sistem yang hidup dan memiliki arah perjuangan yang harus terus dijaga.
Pandangan tersebut selaras dengan pesan yang pernah ia sampaikan dalam pertemuan para masyayikh di Bangkalan, Madura, pada 23 Juni 2026. Saat itu, ia mengingatkan agar NU tidak berjalan tanpa arah, bimbingan, maupun pedoman yang jelas.
Buku ini juga mendokumentasikan perjalanan intelektual KH Ma’ruf Amin selama lebih dari lima dekade mengabdi di lingkungan NU. Ia dikenal sebagai salah satu perumus Sistem Pengambilan Keputusan Hukum Islam dalam Munas Alim Ulama NU di Lampung tahun 1992 serta memiliki reputasi kuat dalam forum Bahtsul Masail.
Dalam buku tersebut, KH Ma’ruf kembali menekankan pentingnya menjaga khittah NU, yakni garis perjuangan yang diwariskan oleh para pendiri organisasi. Menurutnya, khittah harus dipahami melalui pemikiran, tindakan, langkah perjuangan, hingga cara para muassis menyikapi berbagai persoalan umat.
Peluncuran buku ini juga berlangsung di tengah sejumlah momentum penting lainnya. Selain bertepatan dengan usia ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diperingati pada 26 Juli 2026, Indonesia juga akan memasuki peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 pada 17 Agustus 2026, sebelum akhirnya NU menggelar Muktamar ke-35 pada akhir bulan.
Menurut penulisnya, buku tersebut lahir dari keprihatinan bahwa praktik keberagamaan masyarakat sering kali kuat dalam aspek amaliah dan tradisi, namun belum selalu disertai pemahaman yang utuh mengenai fikroh, manhaj, serta orientasi gerakan Nahdlatul Ulama.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Mustasyar PBNU, KH Anwar Manshur, dalam kata pengantarnya mengutip pesan klasik, “Jaddū al-safīnata fa-inna al-bahra ’amīq” yang berarti, “Perbaruilah perahu kalian, karena lautan itu dalam.” Pesan tersebut menjadi pengingat pentingnya pembaruan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar organisasi.
Buku ini juga menjelaskan konsep gerakan Nahdhiyyah yang dijalankan melalui tiga fungsi utama, yaitu himayah (menjaga), islah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan). Ketiga fungsi tersebut diterapkan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, dan ekonomi.
Pada aspek ekonomi, KH Ma’ruf mengulas sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918 yang digagas KH Abdul Wahab Hasbullah, serta perkembangan Gerakan Koin NU yang berawal dari Kabupaten Sragen hingga kini berkembang secara nasional sebagai instrumen penguatan ekonomi warga Nahdliyin.
Di bagian penutup, buku ini mengajak warga NU untuk berorganisasi ’ala bashirah, yakni berlandaskan pemahaman, keyakinan, dan argumentasi yang kuat, bukan semata-mata karena faktor keturunan atau kebiasaan. Melalui gagasan tersebut, KH Ma’ruf Amin menawarkan arah agar NU mampu bertransformasi dari organisasi yang besar secara kuantitas menjadi semakin unggul dalam kualitas memasuki abad keduanya.
Peluncuran buku ini dijadwalkan dihadiri sejumlah ulama, kiai sepuh, akademisi, serta tokoh-tokoh NU, termasuk beberapa anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), forum yang memiliki peran penting dalam proses penentuan kepemimpinan NU pada Muktamar ke-35 mendatang.
Oleh : Roqiyul Ma’arif Syam
*Penulis merupakan Wakil Katib Syuriyah PCINU United Kingdom